Peduli Setan

Langit semakin tertawa
Tanah banyak bersedih

Segala niat baikmu sebagai penyembuh lara, kian meredup. Kembang merekah indah berkat hujan yang menyiraminya. Kau? 

Siapa kau? Apa gunanya?
Jelas tak ada yang tau!

Persoalan antara dua hamba. Yang satu  meraih angan dan yang satu lagi berharap pulang ke pelukan. Oh, mungkin ia belum mengerti betapa hidup tidak soal menjadi target. Atau mungkin kau yang egois? 

Sadar lah! 
Kau adalah manusia yang hilang akal sehat di matanya. 

ENYAH DAN MUSNAHLAH KAU DARI HIDUPNYA. 

Sampai kapan kau akan terus bertahan dengan pijakan itu? Tak ingin berubah? 
Aku tau itu sulit, tapi bagaimana caramu menyampaikan pesan, itu sudah membuat ia muak. 

Kau menanti penantian yang tak pasti, kelakuan serta perangai iblis. 

Berakhir waktumu sebentar lagi. Hanya tinggal beberapa waktu saja. 

Tunggu, kau mau kemana? Mencoba lagi? 
Baiklah, itu hakmu. Namun, apakah kau sanggup dengan semua kemungkinan? 

Pintar-pintar lah dalam mengatur semuanya dan pastikan sang bidadari tidak tersakiti baik lahir maupun batinnya. 

Ingat, dan tolong sampaikan pesan ini kepadanya. Jangan sampai kau meninggalkan pesan ini begitu saja. 

Kau dan dia sama-sama keras kepala.

Komentar

  1. Et bang kaya gua banhet ini yang mencoba untuk kembali berbagi rasa. Namun, nyatanya keberanian saja tak cukup pada akhirnya

    BalasHapus

Posting Komentar